IDWARTA

Media Informasi Uda Gitu Aja

Desember 4, 2022

idwarta.com – Berkunjung ke Desa Gulurejo, Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulon Progo , Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), tak lengkap rasanya tanpa mengunjungi Batik Sembung .

Tidak hanya melestarikan budaya khas batik dan mengombinasikannya dengan corak modern, Batik Sembung juga membuka wadah bagi siapa saja yang ingin belajar proses membatik.

Seperti dikatakan perajin Batik Sembung bernama Bayu Permadi. Pihaknya berharap agar para generasi muda bisa mewariskan budaya membatik, supaya warisan lokal ini tidak luntur oleh zaman.

“Saya berpikir kalau generasi muda tidak mewariskan budaya batik, pasti akan luntur. Di sini kami berusaha gimana caranya orang-orang yang mau belajar (membatik) itu tidak kesulitan,” kata dia dalam live report Piknik Maya di media sosial Kompas.com, Minggu (2/10/2022).

Apalagi, showroom sekaligus sanggar bernama Batik Sembung ini memiliki lokasi strategis dan mudah dijangkau, tepatnya di pinggir jalan raya Lendah-Sentolo, Desa Gulurejo.

Jika ingin belajar atau sekadar melihat-lihat proses membatik, pengunjung bisa langsung datang ke tempat.

“Caranya ke sanggar? langsung datang aja, tidak harus dengan saya. Sanggar sangat terbuka untuk siapa pun. Kalau dari luar Jawa, langsung cari di maps Sembung Batik, pasti langsung ke sanggar kita,” imbuhnya.

Sembung Batik, padukan motif klasik dengan modern

Bayu yang mewarisi toko Batik Sembung dari ayahnya menjelaskan, konsep Batik Sembung sudah mendapat campuran kreasi antara motif batik klasik dengan yang baru atau modern.

Oleh karena itulah, produksi Batik Sembung memang bisa dikatakan unik dan berbeda dari batik kebanyakan.

“Batik Sembung itu apa? Jadi kalau teman-teman ke Kulon Progo, untuk batik-batik di sini ada beragam. Kaya batik plesiran, kontemporer, batik kekinian, sudah ada kreasi sedikit batik baru dari yang klasik,” terang Bayu.

Galeri yang didominasi aksen kayu ini nampak menyuguhkan berbagai jenis batik. Seperti batik tulis, batik kombinasi, batik cap, hingga batik naturalis.

Dari informasi yang diberikan Bayu, ciri khas Batik Sembung adalah adanya produk yang membawa motif abstrak atau tidak terpaku pada motif tertentu, dan dibuat sesuai ekspresi pembuatnya.

Namun, tentu saja motif batik yang klasik, dan memiliki pakem atau filosofi tertentu, tetap dipertahankan di sana. Bahkan, kedua motif baik abstrak dan klasik keduanya bisa digabungkan.

Sembung Batik, berdiri sejak 2008

Menurut Bayu, membatik bukan hanya sekedar proses pembuatan di suatu kain, tetapi sebagai perjalanan hidup.

Sejak didirikan pada 2008, ia telah mempelajari seluk-beluk dunia perbatikan dan melihat pertumbuhan batik yang positif.

“Kami dari 2008, mulai berkecimpung di dunia batik. Kebetulan momennya 2009 UNESCO mengesahkan batik sebagai warisan budaya non-benda Indonesia. Dari situ, batik mulai bergejolak,” tutur dia.

Oleh karena itu, Bayu bertekad untuk terus menyebarluaskan batik sampai ke seluruh dunia. Ia dan warga sekitar pun tak lupa aktif mempromosikan motif batik khas Kulon Progo yang berbentuk seperti angka delapan atau disebut dengan motif Geblek Renteng.

Ingin terus majukan budaya batik

Hingga kini, selain menerima order batik sesuai pesanan dalam jumlah kecil maupun besar, Batik Sembung juga menerima permintaan workshop, wisata batik, atau study tour.

Tak hanya itu, kata Bayu, Batik Sembung juga memiliki media sosial yang cukup aktif, untuk memberikan informasi terkait proses membatik.

Hal tersebut ia lakukan untuk membantu masyarakat yang ingin belajar membatik, namun belum berkesempatan untuk datang secara langsung.

Apalagi, menurutnya, untuk bisa membatik, seseorang sebaiknya harus menyukai atau tertarik terlebih dahulu.

“Jadi kami beri kemudahan untuk teman-teman yang baru mau mempelajari. Kalau udah tau step-nya seperti itu, mau ke arah batik kontemporer, abstrak, atau lainnya, enggak masalah. Yang penting suka dulu, tertarik dulu, baru praktik,” pesan dia.

Lebih lanjut, ia berharap ke depannya agar busana batik bisa lebih sering digunakan, tidak hanya saat acara-acara formal. Bayu berpesan agar masyarakat tidak mengerdilkan batik, sebab budaya ini merupakan warisan berharga yang diakui UNESCO.

“Jangan mengkerdilkan batik. Dengan pemerintah pun sangat antusias, apalagi kita anak muda, kok enggak mau berkecimpung di batik, sangat-sangat rugi lah menurut saya,” pungkasnya.

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website kompas.com. Situs https://idwarta.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://idwarta.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”