Efek Samping Makanan Hasil Fermentasi
Berita

Efek Samping Konsumsi Makanan Hasil Fermentasi

IDWARTA.com – Makanan hasil fermentasi merupakan makanan atau minuman yang sudah melewati proses fermentasi pertumbuhan bakteri. Fermentasi merupakan proses anaerob yang mana mikro organisme seperti ragi dan bakteri mengubah komponen makanan seperti misalnya kedelai diurai oleh jamur atau glukosa diubah menjadi asam organik, alkohol dan gas.

Ada banyak sekali contoh makanan yang telah melewati proses hasil fermentasi misalnya seperti tempe, keju, yogurt, tape, brem, roti, kimchi, kombucha, kefir dan masih banyak lagi.

Namun tahukah anda bahwa makanan yang telah melewati proses fermentasi memiliki efek samping untuk kesehatan. Apa saja efek samping jika mengkonsumsi makanan hasil fermentasi. Yuk kita simak penjelasannya dibawah ini.

Efek samping konsumsi makanan hasil fermentasi

 

1. Sakit kepala atau migrain

Makanan dan minuman hasil fermentasi yang kaya akan probiotik misalnya yogurt, kimchi, asinan, acar dan sebagainya. Makanan dan minuman tersebut selama dalam proses fermentasi mengandung amina biogenik. Amina biogenik berasal dari bakteri tertentu yang berfungsi memecah asam amino didalam makanan hasil fermentasi. Didalam makanan fermentasi senyawa amina yang paling sering dijumpai yaitu tyramin dan histamin.

Seseorang yang sensitif terhadap tyramin dan histamin jika mengkonsumsi makanan hasil fermentasi biasanya akan mengeluhkan sakit kepala. Hal tersebut bisa terjadi karena senyawa amina bekerja menstimulasi sistem saraf pusat. Jadi bisa mengontrol menaikkan atau menurunkan aliran darah sehingga dapat menyebabkan sakit kepala.

2. Perut kembung

Kandungan probiotik yang tinggi yang terdapat pada makanan atau minuman hasil fermentasi sehingga tidak semua orang aman jika mengkonsumsinya. Ada beberapa yang mengeluhkan rasa tidak nyaman pada perut mereka setelah mengkonsumsi makanan fermentasi. Bagi mereka penderita gangguan lambung efek yang paling sering ditemui setelah mengkonsumsi makanan fermentasi yaitu naiknya asam lambung sehingga membuat perut kembung.

Reaksi perut kembung terjadi karena adanya produksi gas berlebih ketika probiotik membunuh bakteri yang ada diusus. Probiotik tersebut menyekresi peptida antimikroba yang membunuh bakteri berbahaya yang ada di usus seperti Salmonella dan E. Coli.

Biasanya probiotik tersebut berada pada minuman yogurt. Walaupun probiotik dapat membunuh bakteri yang berbahaya pada usus, tetapi ada beberapa orang yang setelah mengkonsumsi makanan fermentasi ini justru merasakan sakit atau perut kembung.

3. Infeksi terhadap probiotik

Sebenarnya probiotik itu aman dikonsumsi tetapi oleh sebagian orang. Bagi mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah jika mengkonsumsi probiotik dapat mengakibatkan infeksi namun kasus seperti ini jarang sekali terjadi.

Dalam sebuah penelitian di London menyatakan bahwa pasien diabetes usia 65 tahun akibat mengkonsumsi probiotik hatinya mengalami abses. Pasien seperti diatas memiliki gangguan sistem imun sehingga harus diberi nasihat agar supaya tidak boleh terlalu banyak mengkonsumsi probiotik.

Pengobatan dengan probiotik dapat menimbulkan infeksi yang serius misalnya seperti pneumonia terhadap orang yang rentan dan mengalami infeksi sistemik, termasuk endokarditis dan sepsis.

4. Keracunan

Makanan dan minuman hasil fermentasi merupakan kategori aman untuk dikonsumsi semua orang tetapi juga tidak menutup kemungkinan makanan tersebut bisa terkontaminasi oleh bakteri yang dapat menimbulkan penyakit.

Ada suatu kasus di Amerika pada tahun 2012 silam terdapat 89 kasus salmonella yang disebabkan karena tempe yang tidak di pasteurisasi. Sedangkan di Korea Selatan pada tahun 2013 dan 2014 ada kasus dua wabah Escherichia coli terjadi disekolah-sekolah. Hal ini terjadi akibat makanan fermentasi kimchi yang terkontaminasi oleh bakteri.

Probiotik sendiri banyak ditemukan pada produk susu fermentasi seperti yogurt, keju, mentega dan lain sebagainya. Probiotik dapat mencegah tumbuhnya bakteri-bakteri yang dapat menyebabkan racun pada makanan seperti Staphylococcus aureus dan Staphylococcal enterotoxins. Dalam suatu kasus, probiotik tidak bisa menyekresikan racun sehingga makanan tersebut bahaya jika dikonsumsi.

5. Memberi perlawanan terhadap antibiotik

Bakteri probiotik membawa gen yang berperan dalam memberi perlawanan terhadap antibiotik. Gen tersebut dapat menularkan bakteri lain melalui transfer gen secara horizontal yang dapat ditemukan disaluran pencernaan. Gen tersebut dibawa oleh makanan fermentasi untuk melawan tetrasiklin dan eritromisin. Eritromisin dan tetrasiklin berguna untuk mengobati beberapa penyakit menular seksual dan infeksi pernapasan.

Pada sebuah study menjelaskan probiotik dijual bebas dipasaran melalui suplemen makanan. Biasanya ditemukan pada produk kimchi, yogurt dan minyak zaitun.

Terdapat penelitian terbaru di Malaysia menyatakan bahwa bakteri Lactobacilli probiotik pada kefir dapat membawa perlawanan terhadap antibiotik seperti penisilin, ampisilin dan tetrasiklin. Antibiotik tersebut dapat berfungsi untuk mengobati penyakit serius pada manusia seperti pneumonia, infeksi kandung kemih, meningitis dan gonore.

6. Intoleransi histamin

Pada beberapa makanan fermentasi banyak mengandung histamin. Tidak semua orang dapat memproduksi enzim untuk mencerna histamin dalam jumlah banyak, tetapi sebagian orang dapat mencerna histamin dengan baik. Itu berarti histamin tidak akan bisa dicerna dengan baik oleh tubuh dan akan diserap kedalam aliran darah.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan gejala sakit kepala atau migrain, flu, gatal-gatal, mata merah, kelelahan dan gejala pada pencernaan seperti mual, muntah dan diare.

Dalam kasus yang parah dapat menyebabkan tekanan darah rendah, asma, detak jantung tidak teratur, perubahan psikologis mendadak seperti pusing kurang konsentrasi, kecemasan, agresivitas dan gangguan tidur.

Itulah efek samping mengkonsumsi makanan hasil fermentasi. Meskipun terbilang aman untuk dikonsumsi oleh semua orang tetapi  juga dapat menyebabkan efek samping bagi kesehatan untuk mereka yang tidak cocok jika mengkonsumsi makanan fermentasi terlalu banyak. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *