IDWARTA

Media Informasi Uda Gitu Aja

Desember 4, 2022

idwarta.com – Sejumlah tren pariwisata baru bermunculan di tengah pandemi Covid-19, salah satunya experience tourism (pariwisata pengalaman), lantaran mass tourism (pariwisata massal) tak lagi menjadi target utama industri pariwisata di Tanah Air.

“Menurut saya, masa depan itu adalah experience tourism, jadi tourism atau pariwisata yang berdasarkan dengan pengalaman yang kita dapat,” ujar Ketua Umum DPP Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) Hans Manansang, saat agenda PUTRI Travel Fair dan Invesment Forum 2022 di Jakarta Aquarium & Safari, Jumat (7/10/2022).

Lebih lanjut, kata dia, experience tourism saat ini lebih dibutuhkan wisatawan. Menurutnya, daripada mengejar mass tourism, penawaran experience tourism lebih unik dan menarik.

Experience tourism itu yang dicari oleh orang zaman sekarang. Tidak lagi sekadar datang ramai-ramai lihat pemandangan, tapi juga ingin merasakan kearifan lokal, budaya lokal, kuliner tradisional, kerajinan tangan, dan lain-lain dari suatu tempat,” jelasnya.

Contoh experience tourism

Sebagai informasi, mass tourism merupakan wisata dalam jumlah yang besar, dilihat dari aspek wisatawan.

Kuantitas kedatangan wisatawan diutamakan, sehingga pariwisata massal mengarah ke wisata-wisata yang cenderung dikunjungi oleh wisatawan dalam jumlah banyak atau rombongan.

“Saya sedang mencoba menyadarkan, mungkin selama ini teman-teman mengejarnya ke mass tourism ya, artinya tempat wisata yang banyak dikunjungi, ribuan orang,” tutur dia.

Hans memberikan salah satu contoh kegiatan yang pernah ia lakukan. Dulu, dirinya pernah membuat dan mengusulkan suatu festival Sambal Nusantara.

“Saya menemukan sambal-sambal yang diciptakan ternyata oleh raja-raja zaman dahulu. Saya ketemu 360 macam sambal, yang enggak biasa kita coba dan makan,” jelasnya.

Dari hal seperti itulah, kata Hans, wisatawan akan lebih tertarik karena dapat merasakan sesuatu keunikan tersendiri, sekaligus tempat wisata yang dijual di suatu destinasi.

“Nah ini adalah sebuah experience, menyicipi sambalnya juga. Jadi sambalnya gratis, tapi air minumnya bayar,” ujar dia.

Selain itu, ia menjelaskan, tidak hanya mengejar kuantitas wisatawan, tapi pelaku wisata juga harus terus meningkatkan kualitas produk dan mutu tempat wisata, misalnya memperhatikan kebersihan toilet.

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website kompas.com. Situs https://idwarta.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://idwarta.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”