IDWARTA

Media Informasi Uda Gitu Aja

November 27, 2022

idwarta.com – Harga beras melambung tinggi dalam beberapa waktu terakhir. Tak hanya memicu lonjakan inflasi di September, kini kenaikan harga beras mulai memicu ‘keributan’.

Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kenaikan harga beras menjadi salah satu pemicu inflasi di bulan September 2022 hingga cetak level tertinggi sejak Desember 2014.

Direktur Utama Bulog Budi Waseso (Buwas) menyebut salah satu penyebabnya karena ada sejumlah perusahaan swasta yang bermain dan menyebabkan harga menjadi tinggi, yakni dengan membeli gabah.

Sementara itu, Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan (Zulhas) mengungkapkan, kenaikan harga dipicu rebutan gabah di lapangan.

“Banyak sekali dari permasalahan beras hari ini selain produksi terganggu alam, tapi dengan berkembangnya swasta-swasta yang memproduksi beras dengan teknologi tinggi, pabrik, ini mereka menguasai. Dan Sampai hari ini juga tidak ada pengembalian buat mereka. Mereka merusak harga di lapangan,” katanya di Pasar Beras Cipinang, Senin (3/10/2022).

Sebelumnya, Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) Sutarto Alimoeso dan Pengamat Pertanian Khudori mengatakan pendapat berbeda.

Disebutkan, kenaikan harga beras dipicu kebijakan pemerintah. Yang justru menaikkan harga pembelian pemerintah (HPP) di saat jelang paceklik atau masuk musim tanam.

Di mana, pemerintah menaikkan HPP untuk memfasilitasi pengadaan cadangan beras Perum Bulog.

“Sebenarnya salah kalau Bulog melakukan pembelian sekarang, apalagi dengan harga yang dinaikkan. Seharusnya adalah Bulog menggelontorkan cadangan pemerintah untuk menekan kenaikan harga beras,” Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) Sutarto Alimoeso kepada CNBC Indonesia, dikutip Senin (3/10/2022).

“Ini adalah langkah yang salah dilakukan sebelum panen raya. Kalau diberlakukan di November-Desember, saat paceklik, nggak masalah. Tapi, saat ini, ketika musim gadu, di mana ada bulan tertentu kita minus, langkah Bapanas menaikkan HPP sama saja mendorong kenaikan harga beras di pasar,” jelasnya.

HPP Bulog, lanjut Khudori, menjadi referensi bagi harga di pasar. Akibatnya, harga yang diterima konsumen akan naik.

“Yang dilakukan Bulog ini merusak pasar. Memang, harga beras naik ini setidaknya bisa membantu petani. Tapi, apakah benar petani menikmati kenaikan harga ini, harus dicek juga. Yang jelas, ketika harga fleksibilitas diumumkan dan langsung berlaku, harga di pasar otomatis naik,” kata Khudori.

Sementara itu, Buwas mengatakan, swasta berani membeli gabah dengan harga lebih tinggi untuk memenangkan pasar dan menjualnya menjadi beras premium dengan harga lebih tinggi, sementara Bulog membeli cadangan beras pemerintah itu ada aturan dan ketentuan, yakni dibatasi harga pembelian dan harga pelepasannya.

“Tolong dibatasi swasta-swasta itu yang bermain dengan beras karena memperbesar kekuatan mereka. Dan ini sangat merugikan petani dan ketahanan mereka. Sekarang kita bersaing dengan mereka yang bebas sedangkan negara dibatasi. Saya yakin kalau negara menguasai pangan, tidak akan terjadi masalah pangan itu langka,” sebut Buwas.

Hal ini menjadi salah satu penyebab naiknya harga beras. Tercatat, harga beras per 30 September 2022 adalah Rp12.700 per kg beras premium dan Rp10.700 per kg beras medium.

Naik dibandingkan harga per 1 September 2022 yang tercatat Rp12.600 per kg premium dan Rp10.500 per kg medium.

“Tidak bisa dihindari kenaikan harga, pupuk juga naik, biaya tanam, ada distribusi, BBM naik, tapi seharusnya tidak terlalu tinggi naiknya,” kata Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi dalam kesempatan yang sama.

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website cnbcindonesia.com. Situs https://idwarta.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://idwarta.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”