IDWARTA

Media Informasi Uda Gitu Aja

Februari 3, 2023

idwarta.com – Dunia berada di ambang resesi setelah inflasi makin menggerogoti ekonomi dunia. Bahkan pengetatan kebijakan moneter untuk memukul inflasi pun makin menggiring ekonomi menuju resesi.

Bank dunia memperkirakan ekonomi global akan bertumbuh lebih lambat pada tahun ini sebesar 2,9%. Tahun lalu ekonomi dunia mampu bertumbuh 5,7% karena adanya reopening ekonomi.

Secara umum, resesi terjadi ketika ekonomi tumbuh negatif dua kuartal beruntun. Pada tahun 2020 lalu dunia mengalami resesi akibat pandemi Covid-19, yang membuat aktivitas dan mobilitas miliaran umat manusia terganggu. Tanpa aktivitas dan mobilitas manusia, roda ekonomi pun ‘macet’.

Kali ini resesi terjadi karena tingginya inflasi akibat harga komoditas energi yang melesat. Karena inflasi yang melambung, bank sentral pun mulai menaikkan suku bunganya. Masalahnya dua hal tersebut ditambah dengan daya beli yang mulai lesu.

Meskipun dunia sedang di ambang resesi kedua dalam dua tahun terakhir, Indonesia diperkirakan tidak terdampak parah seperti yang terjadi pada 1998 ataupun 2020.

“Dampak kepada perekonomian Indonesia pada resesi global diperkirakan tidak separah 2020 ataupun 1998 seiring dengan kondisi ekonomi riil yang masih relatif stabil sejauh ini,” ujar Josua Pardede, Ekonom Bank Permata.

“Namun, potensi perlambatan ekonomi masih tetap ada, seiring dengan dampaknya pada beberapa sektor dan nilai tukar rupiah,” kata Josua lagi.

Seandainya resesi (amit-amit) terjadi, dampak apa yang akan dirasakan oleh masyarakat?

Ekspor Indonesia akan terguncang karena pasar dunia yang lesu. Kemerosotan ekspor akibat dampak resesi dunia tentunya akan memangkas produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Saat itu terjadi, dampaknya akan terasa bagi eksportir karena permintaan yang sepi.

Di sisi lain, beban operasional tetap harus berjalan seperti listrik, sewa gedung, dan karyawan.

Biasanya untuk mengurangi beban, kapasitas produksi pun dikurangi mengikuti permintaan yang turun.

Selain itu, karyawan pun jadi korban dengan adanya pemotongan gaji. Bahkan lebih parah, adanya pemutusan hubungan kerja (PHK).

Ujung-ujungnya daya beli pun semakin rendah karena pendapatan yang terpotong atau bahkan terputus. Tingkat pengangguran pun menjadi bertambah.

Sudah pasti saat pendapatan berkurang, pengeluaran hanya terbatas untuk memenuhi kebutuhan pokok saja.

Masalah makin rumit ketika ada utang yang belum dibayar dan sudah segera jatuh tempo. “Gali lubang, tutup lubang” alias meminjam untuk menutup pinjaman akan jadi pilihan yang umum untuk segera membayar utang yang akan jatuh tempo.

Apalagi saat terjadi resesi, menjual aset di harga terbaik akan sulit. Sebab daya beli masyarakat sedang lesu saat itu.

Kemudian jika melihat kondisi saat ini, resesi dipicu oleh kenaikan suku bunga bank sentral yang agresif. Sehingga bisa mengerek suku bunga kredit yang membuat utang menjadi lebih mahal. Di sisi lain bunga deposito pun bisa naik yang membuat investasi di bank lebih menguntungkan dibandingkan investasi di aset risiko yang akan terpukul.

Jadi daya beli masyarakat akan terpukul karena pendapatan yang berkurang, ini berisiko meningkatkan angka kemiskinan.

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website cnbcindonesia.com. Situs https://idwarta.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://idwarta.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”