IDWARTA

Media Informasi Uda Gitu Aja

Desember 4, 2022

idwarta.com – Hal itu disampaikan langsung oleh pedangdut jebolan pencarian bakat tersebut di depan awak media. Lesti Kejora juga mengungkap, jika dirinya dan Rizky Billar telah membuat perjanjian, agar kejadian tersebut tak terulang lagi.

Terlebih, Rizky Billar juga sudah meminta maaf padanya, pada keluarga, khususnya orangtua Lesti Kejora atas perbuatan yang telah ia lakukan pada sang istri. Di sisi lain, pihak keluarga juga sudah memaafkan Rizky Billar.

“Alasannya anak saya karenamu bagaimana pun suami saya bapak dari anak saya, dan beliau juga sudah mengakui perbuatan dan meminta maaf pada saya dan keluarga bapak saya,” kata Lesti di Polres Jakarta Selatan, Jumat (14/10/2022).

Tentu saja, hal ini menjadi sorotan dan membuat banyak orang ikut berkomentar. Tak sedikit yang merasa belum yakin jika Rizky Billar benar-benar akan berubah. Kasus KDRT bisa saja berulang, dan anak bisa menjadi korban utama saat menyaksikan kekerasan yang dilakukan ayah pada ibu mereka.

Dilansir Very Well Mind, efek menyaksikan KDRT mungkin terlihat dalam waktu singkat pada anak-anak, sementara kerusakan lain mungkin akan terlihat dalam jangka panjang. Beberapa dampak langsung yang dialami anak-anak setelah menyaksikan KDRT antara lain adalah.

1. Kecemasan

Anak-anak cenderung gelisah jika mereka selalu dikelilingi oleh kekerasan salah satu orangtua oleh orangtua lainnya. Mereka akan hidup dengan napas tertahan, tekanan terlebih saat serangan fisik atau verbal terjadi di rumah mereka. Ini dapat menumbuhkan rasa cemas yang terus-menerus.

Bagi anak-anak prasekolah yang menyaksikan hal ini, tidak jarang mereka kembali ke kebiasaan anak kecil. Mengisap jempol, mengompol, tangisan yang meningkat, dan rengekan dapat terjadi akibat mengamati kekerasan antara orangtua mereka.

Anak-anak usia sekolah dapat mengembangkan sifat anti-sosial dan mungkin berjuang dengan rasa bersalah atas kekerasan yang disaksikan. Anak-anak ini biasanya menyalahkan diri sendiri atas pelecehan yang dilakukan orang tua mereka, sebuah keyakinan yang dapat sangat merusak harga diri mereka.

2. Gangguan Stres Pascatrauma

Salah satu dampak KDRT yang paling dahsyat adalah kemampuannya menimbulkan gangguan stres pasca trauma pada anak-anak yang dibesarkan di sekitarnya.

Meski terhindar dari kekerasan fisik, trauma kekerasan dalam rumah tangga cukup menyebabkan perubahan berbahaya pada otak anak yang sedang berkembang.

Perubahan-perubahan ini dapat menyebabkan mimpi buruk, perubahan pola tidur, kemarahan, cepat marah, kesulitan berkonsentrasi, dan anak-anak terkadang memiliki kemampuan untuk memerankan kembali aspek-aspek pelecehan yang menimbulkan trauma yang diamati.

3. Tantangan Fisik

Ketegangan kesehatan mental adalah akibat umum dari menyaksikan KDRT orangtua. Namun, konsekuensi ini terkadang terlihat dalam kesejahteraan fisik mereka. Anak-anak usia sekolah mungkin melaporkan sakit kepala dan sakit perut yang dapat dilacak dari situasi tegang di rumah.

Pada bayi, ada risiko lebih tinggi mengalami cedera fisik mengikuti aliran kekerasan yang terus-menerus pada orangtua.

4. Perilaku Agresif

Ketika remaja menyaksikan KDRT, mereka cenderung bertindak sebagai reaksi terhadap situasi tersebut. Mereka mungkin berkelahi, bolos sekolah, terlibat dalam aktivitas seksual berisiko, atau mencoba-coba narkoba dan alkohol. Para remaja ini juga sangat mungkin bermasalah dengan hukum.

5. Pelecehan Fisik

Dalam banyak kasus, anak-anak yang tinggal di rumah tangga yang kasar juga cenderung menjadi korban perlakuan ini sendiri.

Pasangan yang kasar dapat dengan mudah menjadi orang tua atau wali yang kasar—secara fisik, verbal, dan emosional menyakiti anak-anak mereka.

Konsekuensi Jangka Panjang

Anak-anak yang tumbuh dengan menyaksikan orangtua yang mengalami pelecehan cenderung menghadapi efek yang bertahan hingga dewasa. Beberapa efek jangka panjang yang dialami anak-anak setelah menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga dibahas di bawah ini.

1. Depresi

Anak yang cemas yang dibesarkan dalam lingkungan yang beracun dan kasar dapat tumbuh menjadi orang dewasa yang depresi. Trauma menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga secara rutin menempatkan anak-anak pada risiko tinggi mengalami depresi, kesedihan, masalah konsentrasi, dan gejala depresi lainnya hingga dewasa.

2. Masalah kesehatan

Pola makan yang buruk atau risiko lingkungan mungkin tidak selalu menjadi penyebab utama kondisi seperti penyakit jantung, obesitas, dan diabetes di masa dewasa. Dalam beberapa kasus, penyakit ini memiliki hubungan langsung dengan pelecehan fisik, emosional, dan verbal yang disaksikan atau dialami anak.

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website suara.com. Situs https://idwarta.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://idwarta.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”