IDWARTA

Media Informasi Uda Gitu Aja

November 27, 2022

idwarta.com – Ada banyak teknik mencetak motif pakaian. Di Indonesia, batik merupakan salah satu yang paling populer. Selain itu, ada juga teknik cetak bernama ecoprint.

Ecoprint merupakan teknik cetak menggunakan bahan alami atau ramah lingkungan yang bisa digunakan pada banyak media.

Mahyal Aini, pemilik usaha Hand Made Soap Bukit Lawang sekaligus ecoprint mengatakan, media ecoprint bisa berupa kain, kertas, gelas tanah liat, hingga kulit.

Hanya saja, tidak semua jenis kain atau kertas dapat digunakan untuk membuat ecoprint.

“Kalau kertas, tidak bisa menggunakan kertas yang sudah dicampur bahan kimia, harus 100 persen alami, seperti terbuat dari kapas yang belum terkontaminasi,” jelas Aini.

Sementara untuk kain, kebanyakan yang dipakai untuk membuat ecoprint adalah katun dan sutra.

Ketebalan bahan yang digunakan juga memengaruhi hasil akhir ecoprint. Aini tidak menyarankan penggunaan bahan tipis saat membuat ecoprint, sebab akan mudah sobek saat direndam.

Dikukus dua jam

Hasil ecoprint yang cantik nan sederhana menurut Aini kerap dianggap sebagai seni yang mudah dibuat. Padahal, membutuhkan proses panjang untuk mendapatkan cetakan yang bagus.

Saat ditemui di Ecolodge Bukit Lawang dalam rangka Familiarization Trip Ekowisata oleh DESMA Center, proyek pembangunan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia pada Jumat (23/9/2022), Aini mencontohkan proses membuat ecoprint dengan kertas.

Kertas berwarna putih yang digunakan terbuat dari 100 persen kapas. Kertas ini harus diberi larutan soda abu dan tawas agar hasil cetakannya sempurna.

“Kalau tidak diberi larutannya, nanti zat warna alami dari tanaman tidak bisa masuk ke sini (kertas),” kata Aini.

Sebagai informasi, soda abu juga umum digunakan untuk meleburkan sisa lilin pada bahan kain atau kertas.

Pembuatan ecoprint dilanjutkan dengan menempatkan daun atau bunga sebagai motifnya di atas kertas.

Pemilihan daun dan bunga untuk ecoprint pun tidak sembarangan. Aini menuturkan, permukaan daun yang halus lebih tepat digunakan saat membuat ecoprint.

“Saya perhatikan, tidak semua daun atau bunga menghasilkan warna walaupun sudah kita treat dengan tawas dan soda abu. Kalau ada bulu di daunnya, biasanya gak bisa, tetapi balik lagi eksperimen. Kalau coba cara lain, mungkin saja bisa,” jelasnya.

Selanjutnya, kain tipis yang sudah direndam air kapur sirih bisa ditempatkan di atas daun atau bunga.

Pastikan kain dalam keadaan lembab, tidak terlalu basah, juga tidak kering karena akan sulit membuat warna alaminya menempel.

Background-nya kalau mau putih langsung dikasih kain tetapi dibasahin lagi dengan kapur sirih. Kalau mau bikin warna lain, kita bisa modifikasi, harus tambahkan warna alami, seperti kunyit atau secang,” tutur Aini.

Kain yang ingin diwarnai setidaknya harus direndam selama 30 menit. Jika sudah, kain tidak perlu diberi air kapur sirih.

Kertas dan kain tersebut dapat digulung perlahan dan diikat tidak terlalu kencang, sebelum dikukus selama dua jam.

“Setelah diikat harus dikasih plastik lagi karena pas pengukusan uap air akan menetes dan melebar ke mana-mana,” saran Aini.

Jika sudah, jangan lupa memastikan kukusan sudah panas sebelum memasukkan kertas dan kain ke dalamnya.

Setelah itu, hasil cetakan bisa dikeluarkan dan dibiarkan hingga dingin. Jika sudah, bisa dibuka dan langsung digunakan.

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website kompas.com. Situs https://idwarta.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://idwarta.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”