IDWARTA

Media Informasi Uda Gitu Aja

November 26, 2022

idwarta.com – Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda mendorong pemerintah membentuk tim independen pencari fakta terkait tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, yang menewaskan seratusan orang.

Huda menegaskan, tim independen itu dibentuk guna mengusut tuntas faktor-faktor yang menyebabkan kerusuhan Kanjuruhan .

“Tragedi di Stadion Kanjuruhan ini merupakan salah satu peristiwa terburuk dalam sejarah sepakbola dunia. Pemerintah harus tegas menghentikan semua kompetisi sepakbola dan membentuk tim independen untuk mengusut tuntas kasus tersebut,” ujar Huda dalam keterangan tertulis, Minggu (2/10/2022).

Huda mengatakan, hasil temuan tim independen ini bisa menjadi rekomendasi terkait langkah yang harus dilakukan pemerintah dalam membenahi manajemen kompetisi sepakbola di Indonesia.

Selain itu, tim independen ini juga bisa mencari tahu secara obyektif siapa saja pihak-pihak yang harus bertanggungjawab atas peristiwa memilukan tersebut.

“Harus ada yang bertanggungjawab atas peristiwa ini. Jangan sampai peristiwa ini berlalu begitu saja dengan dalih adanya tindakan anarkis dari suporter,” terang dia.

Huda juga meminta agar Presiden Joko Widodo langsung turun tangan memastikan proses investagasi tragedi ini.

Menurutnya penanganan dan respons peristiwa tersebut akan menjadi pesan kepada dunia bahwa Indonesia serius membenahi pengelolaan sepakbola di Tanah Air.

“Peristiwa ini pasti menjadi sorotan dunia, karena Tragedi Kanjuruhan ini lebih buruk dari Tragedi Hillsborough, Inggris dan Tragedi Hesysel, Belgia,” jelas dia.

Huda sekaligus mempertanyakan penggunaan gas air mata dalam upaya pengendalian suporter anarkis dalam laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya tersebut.

Ia menjelaskan, berdasarkan pedoman ‘FIFA Stadium Safety and Security Regulation’ Pasal 19 poin B, disebutkan tidak boleh sama sekali penggunaan senjata api dan gas air mata untuk pengendalian massa.

“Tapi kenapa ini masih digunakan dalam SOP pengamanan suporter di Indonesia,” kata dia.

Selain itu, Huda mengatakan tragedi kelam ini hanyalah puncak dari rentetan kejadian jatuhnya korban dalam kompetisi sepakbola di Indonesia.

Sebelum kerusuhan Kanjuruhan, kompetisi sepakbola di Indonesia telah memakan korban nyawa, baik di dalam maupun di luar stadion.

Huda juga mengatakan, pihaknya selama ini sudah berulang kali mengingatkan tidak ada sepakbola yang seharga nyawa manusia.

“Di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, lalu di Yogyakarta. Tetapi respons pemerintah biasa saja. Tidak ada pembenahan serius dalam pengendalian suporter maupun keamanan di dalam dan luar stadion,” tegas dia.

Sebelumnya, laga derbi Jawa Timur antara Arema melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan berakhir rusuh.

Dilaporkan, 129 orang tewas dalam tragedi di Kanjuruhan. Dua korban di antaranya merupakan anggota Polri.

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website kompas.com. Situs https://idwarta.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://idwarta.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”