IDWARTA

Media Informasi Uda Gitu Aja

Desember 1, 2022

idwarta.com – Rabu (7/10/2022), ribuan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berkumpul di halaman Masjid Gedhe Kauman untuk kembali mengikuti prosesi peringatan Maulid Nabi atau Sekaten.

Rangkaian Sekaten digelar mulai 1 sampai 7 Oktober 2022. Diawali dengan dengan Miyos Gangsa atau keluarnya Gamelan Sekaten dari Keraton ke Pagongan Kagungan Dalem Masjid Gedhe pada tanggal 6 Mulud hingga 12 Mulud.

Gamelan akan ditabuh setiap hari mulai pukul 10 pagi hingga 10 malam. Prosesi inilah yang selanjutnya dikenal dengan istilah Sekaten.

Gamelan Sekaten hanya dimainkan pada perayaan Sekaten, yakni sarana syiar Islam sekaligus tradisi untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW yang sudah ada sejak zaman Kasultanan Demak.

Setelah berakhirnya Sekaten, biasanya dilakukan pemeriksaan dan perbaikan terhadap Gamelan Sekaten.

Prosesi penyebaran Undhik-undhik dari Sultan HB X

Kerusakan sering terjadi akibat benturan-benturan yang diakibatkan oleh banyaknya orang yang memperebutkan koin saat prosesi penyebaran Udhik-udhik.

Pada tahun ini tepatnya 7 Oktober 2022, Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono 9HB) X datang ke Masjid Gedhe Kauman untuk menyebar Udhik-udhik (uang koin dan uba rampe) kepada masyarakat lalu masuk ke dalam Masjid untuk mendengar risalah Nabi.

Setelah itu barulah dilakukan prosesi Kondhur Gongso atau mengembalikan kedua gamelan itu ke dalam Keraton Yogyakarta.

Sekira pukul 20.00 warga sudah memadati halaman Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta. Di halaman Masjid juga banyak ditemui penjual makanan.

Dalam upacara sekaten ini, banyak masyarakat yang menjual makanan seperti nasi gurih hingga telur merah.

Tak lama berbagai prajurit pengiring kondur gangsa mulai masuk ke area Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta seperti Prajurit Wirabraja, Patangpuluh, Ketanggung, Mantrijero, dan Nyutra.

Setelah para prajurit masuk ke halaman Masjid Gedhe Kauman, tak selang berapa lama Sultan memasuki area Halaman Masjid Gedhe lengkap dengan pakaian Jawa. Sultan ke area gamelan dan menyebar Udhik-udhik kepada masyarakat.

Sontak warga yang sudah berkumpul di area pagongan memperebutkan Udhik-udhik dan saling berdesakan. Setelah menyebar Udhik-udhik Sultan masuk ke area Masjid Gedhe Kauman untuk mendengarkan risalah Nabi.

Sarana penyebaran Islam melalui gamelan

Penghageng Urusan Pengulon Keraton Yogyakarta Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Jayaningrat menjelaskan, upacara adat ini dilakukan sejak zaman Sunan Kalijaga.

Sekaten ini untuk menarik masyarakat kepada sesuatu ajaran agama, dalam hal ini adalah Islam.

“Kenapa sekaten dari perumpamaan Syahadatain, masyarakat berbondong-bondong ke Keraton mendengarkan gamelan, setelah itu masuk ke acara di serambi Masjid untuk mendengarkan ceramah dan melakukan Syahadat,” kata dia, Jumat (7/10/2022).

Ia melanjutkan, kini masyoritas masyarakat sudah memeluk Islam, sehingga tradisi tetap dilakukan sebagai budaya.

Upacara adat ini juga kembali digelar setelah 2 tahun tidak dilakukan karena Pandemi Covid-19.

Pengalaman pertama ikut upacara Sekaten

Salah satu warga yang mendapatkan Udhik-udhik bernama Andri yang merupakan mahasiswa asal Lampung mengaku baru pertama kali mengikuti prosesi Kondhur Gongso di Masjid Gedhe Kauman.

“Tadi pas ramai-ramai ikutan, dan Alhamdulillah dapat. Tadi sempat nanya bapak-bapak maknanya apa katanya berbagi rizki dari pihak Keraton ke masyarakat,” katanya, Jumat (8/10/2022).

Menurutnya ini merupakan pengalaman yang langka karena di kampung halamannya di Lampung tidak ada upacara adat seperti ini.

“Seru! Bagi masyarakat pendatang, koin ini akan saya simpan jadi kenang-kenangan selama kuliah di Yogyakarta,” kata dia.

Sementara itu, wisatawan lainnya bernama Kalis Devita asal Jakarta mengatakan dia mendapatkan informasi upacara adat sekaten digelar kembali setelah 2 tahun vakum dari petugas di Keraton Yogyakarta.

“Tadi baru nyampe ke Keraton dapat info nanti malam ada peringatan Maulid Nabi yang 2 tahun kebelakang tertunda covid,” ucap dia.

Namun saat Sultan menyebar udhik-udhik, ia kurang beruntung karena tidak mendapatkannya.

“Gak dapat karena langsung minggir di tengah langsung penuh karena kalah tenaga, jadi mundur,” ujar dia.

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website kompas.com. Situs https://idwarta.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://idwarta.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”