IDWARTA

Media Informasi Uda Gitu Aja

November 26, 2022

idwarta.com

“Tanpa impian, kita tak akan meraih apa pun. Tanpa cinta kita tak akan bisa merasakan apa pun. Dan tanpa Allah kita bukan siapa-siapa.” – Mesut Ozil.

Untain kata-kata dari mantan pemain timnas Jerman, bekas pemain Real Madrid dan Arsenal itu begitu dalam maknanya. Sepakbola itu tidak sekadar “permainan” olahraga yang menguras fisik, tetapi juga menjadi ajang menyatukan “rasa”.

Di saat kebanggaan kita membuncah saat PSSI U-16 asuhan coach Bima Sakti menjuarai AFF Boys U-16, PSSI U-20 dan PSSI Timnas Senior binaan pelatih Shin Tae-yong yang melaju ke putaran final Piala Asia, PSSI U-23 meraih medali perunggu di Sea Games 2020 serta keberhasilan Timnas mengalahkan Timnas Cucurao yang berperingkat ibarat “langit” dengan “bumi” dengan kita, berita duka kini menggayuti sepak bola Indonesia.

Sepak bola nasional tengah menanjak prestasinya, bahkan tim futsal kita yang berlaga di Asia Cup dan timnas amputasi yang bertanding di Piala Dunia punya rekor kemenangan yang menggetarkan prestasi sepak bola nasional.

Stadion Kanjuruhan di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu, 1 Oktober 2022 menjadi saksi “kelam” amuk suporter Arema FC yang tidak bisa menerima kekalahan klub idolanya atas Persebaya Surabaya.

Setiap “derby” Jawa Timur antara Arema dengan Persebaya, pertandingan selalu berlangsung sengit dan “panas”.

Data hingga Minggu (2/10/2022) malam, jumlah korban tewas dalam Tragedi Kanjuruhan mencapai 125 orang. Sementara itu, korban luka-luka sebanyak 299 orang. Dengan rincian luka ringan 260 orang dan luka berat 39 orang.

Korban Tragedi Kanjuruhan tersebut semakin menambah daftar jumlah korban kerusuhan di stadion dengan skala korban meninggal terbesar di dunia.

Korban tewas di Kanjuruhan melebihi jumlah korban meninggal di Stadion Hillsborough, Inggris tahun 1989. Kejadian yang ditabalkan sebagai tragedi sepak bola terkelam di Britania Raya itu, 89 pendukung Liverpool berkalang tanah.

Berdasarkan penyelidikan yang dilakukan selama puluhan tahun, akhirnya terungkap kalau Tragedi Hillsborough terjadi akibat ketidakbecusan pihak kepolisian dalam mengamankan jalannya pertandingan.

Mayoritas korban tewas di Hillsborough berusia di bawah 30 tahun, usia-usia yang tergolong produktif.

Tragedi paling kelam di dunia sepak bola terjadi di Estadio Nacional, Lima, Peru, 24 Mei 1964 saat dihelat pertandingan kualifikasi Olimpiade antara Peru melawan Argentina.

Usai gol penyama Peru dianulir wasit, pertandingan menjadi ricuh dan pecah kerusuhan yang menyebabkan 328 penonton tewas (Kompas.com, 02/10/2022).

Mengapa Kanjuruhan menjadi palagan sepak bola nasional di saat prestasi sepak bola nasional kita tengah ditakuti negara-negara lain?

Mengapa Tragedi Kanjuruhan bisa terjadi di saat eforia penggemar sepak bola menemukan momentumnya pascapageblug panjang yang menyisahkan kenangan “masa rebahan” dan isolasi demi menekan penyebaran virus Corona?

Siapa pihak yang bertanggungjawab?

Beda Jepang, beda pula di Indonesia. Jika ada kejadian yang memalukan atau memakan korban jiwa besar, maka pihak yang bertanggungjawab di Jepang langsung mundur karena malu akibat tidak becus bekerja.

Bahkan spirit seppuku dan harakiri masih menjiwai sebagian generasi Jepang karena merasa gagal menjalankan tugas.

Sementara di tanah air, jika ada kejadian yang memalukan maka yang galib terjadi adalah saling lempar melempar tangggungjawab.

Pihak panitia pelaksana di Malang sudah menyarankan agar pertadingan Arema FC melawan Persebaya digelar sore hari, dan usulan tersebut juga ikut direkomendasikan Polres Malang kepada PT Liga Indonesia Baru (LIB).

Sementara LIB tetap “ngotot” pertandingan tetap dilakukan malam hari, karena terikat kontrak dengan Indosiar selaku stasiun televisi yang menyiarkan pertandingan.

Slot siaran pertandingan malam hari memang paling menjadi favorit pemasang iklan karena potensi penonton yang cukup besar mengingat perbedaan zonasi waktu di tanah air.

Janggalnya, begitu rekomendasi dari panitia pelaksana di Malang diacuhkan LIB tetap juga “membuka” penjualan tiket hingga melebihi daya tampung Stadion Kanjuruhan.

Kanjuruhan yang bisa menampung 38.000 penonton, tiket yang dilepas panitia mencapai 42.000 penonton. Bahkan banyak suporter Arema harus menonton pertandingan dengan berdiri.

Akibatnya bisa ditebak, begitu ada kejadian chaos di lapangan, maka stadion tidak mampu menyediakan akses emergency untuk keluar dari stadion.

Sementara dari pihak keamanan, harusnya potensi kerusuhan di setiap derby Jawa Timur mudah diantisipasi.

Jika rekomendasi keamanan kepada LIB diacuhkan, semestinya izin gelaran pertandingan tidak diberikan.

Kalaupun pertandingan tetap diadakan, pelapisan dan penebalan jumlah personel pengaman pertandingan harus diperhitungkan dengan cermat.

Kefatalan yang dilakukan aparat pengamanan pertandingan derby Jawa Timur itu adalah penggunaan gas air mata yang membuat penonton menjadi semakin ricuh.

Aksi anarkis yang dilakukan pendukung Arema rupanya “dibalas” pula dengan aksi lontaran gas air mata.

Tentu imbasnya kepada penonton yang tidak terlibat dengan aksi rusuh karena membuat mereka kebingungan dan ingin segera keluar dari stadion.

Mirisnya lagi, akses-akses keluar stadion di Kanjuruhan begitu sedikit dan kurang memenuhi standar keamanan.

Belum lagi, tindakan keras petugas keamanan yang “menyabetkan” pentungan ke arah kepala penonton menjadi penambah korban luka.

Soal gas air mata, saya begitu trauma saat menjadi peliput di berbagai kerusuhan di tanah air jelang rezim Soeharto jatuh.

Asapnya yang membuat mata perih dan berair bahkan saat dibasuh air pun menjadi semakin perih di mata, tentu sangat menyakitkan dan membuat kalut penonton di Stadion Kanjuruhan.

Saya sulit membayangkan penderitaan penonton di tribun yang tidak tahu apa-apa, tetapi terkena imbasnya karena aksi penembakan gas air mata.

Aturan Federasi Sepabola Dunia (FIFA) terkait pengamanan dan keamanan stadion (FIFA Stadium Safety & Security Regulations) pasal 19.b menyebut dengan tegas senjata api dan “gas pengendali massa” tidak boleh dibawa atau digunakan.

Seperti yang dinyatakan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Kemanan Mahfud MD, korban meninggal di pertadingan Liga 1 itu karena desak-desakan dan terinjak. Kerusuhan itu bukan karena bentrok antarsuporter mengingat pendukung Persebaya terkena larangan menonton pertandingan. Tidak ada korban penganiayaan antar suporter. (Detik.com, 02 Oktober 2022).

Presiden Joko Widodo langsung memerintahkan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk menghentikan sementara Liga 1 sampai evaluasi menyeluruh dilakukan.

Tidak itu saja, Jokowi juga memerintahkan perbaikan prosedur pengamanan kepada Kapolri, Menteri Pemuda dan Olahraga serta PSSI.

Jokowi juga memerintahkan Menteri Kesehatan dan Gubernur Jawa Timur mengawasi penanganan kesehatan bagi korban Tragedi Kanjuruhan (Kompas.com, 02/10/2022).

Jika sudah seperti ini, siapa pihak yang paling bertanggungjawab? PT LIB yang tetap nekad menggelar pertandingan dengan mengabaikan rekomendasi panitia pertandingan di Malang dan Polres Malang; panitia pertandingan yang malah menjual tiket jauh melebihi daya tampung stadion; pihak keamanan yang tidak profesional melakukan prosedur pengamanan pertandingan bahkan menggunakan tembakan gas air mata atau PSSI yang menjadi penanggungjawab utama kegiatan dan pembinaan sepakbola di tanah air?

Sepakbola adalah Katarsis

Memang betul, tidak boleh ada nyawa yang melayang karena hanya pertandingan sepakbola semata. Tetapi juga tidak bijak menghentikan sepakbola karena ketidakbecusan penyelenggara dan pengamanan pertandingan sepakbola.

Sepakbola bukanlah semata pertandingan, sejatinya sepakbola adalah katarsis sebagian rakyat akan penyaluran kepenatan sosial, ekonomi dan politik yang tengah terjadi.

Jika saya pusing memikirkan sulitnya mencari rezeki akhir-akhir ini, dengan menonton pertandingan sepak bola maka rasa pusing saya akan hilang walau hutang tetap tidak terbayar juga.

Sepak bola adalah ritual yang “menghidupi” banyak jiwa. Mulai dari pemain, pelatih, staf pendukung, produk pemasang iklan, warga yang berjualan merchandise klub sepak bola hingga petugas yang mengamankan pertandingan.

Tukang parkir kecipratan rezeki karena jasanya mengamankan kendaraan milik penonton. Penjual minuman segar mendapat penghasilan karena dagangannya ludes terjual.

Pemilik warung nasi senang karena jualannya juga tandas saat pertandingan digelar. Semuanya mendapat rezeki.

Sepak bola tidak hanya menjadi hiburan rakyat, bahkan pertandingan di Kecamatan Benua, Konawe Selatan, di pedalaman Sulawesi Tenggara pun juga riuh mengundang minat penonton.

Saya menyaksikan ronah bahagia penonton yang sumringah ketika kesebelasan yang didukungnya menang.

Sepak bola pun menjadi ajang politiking para politisi yang “ngebet” mencari panggung. Sangat janggal ketika timnas memenangkan pertandingan justru ketua umum-nya yang tampil di sesi konferensi pers. Padahal yang lazim adalah pelatih dan pemain yang menjadi juru bicaranya.

Dunia sepak bola kini menjadi captive market yang berprospek, dan jangan heran jika pebisnis kita mengakuisisi klub sepak bola di mancanegara atau para selebritas memiliki klub sepak bola. Sepak bola telah menjadi dunia harapan semua kalangan.

Sampai kapan pun, Alfiansyah (11) akan menunggu “kedatangan” Devi Ratna (30) dan Yulianton (40) untuk menjemputnya pulang sekolah dan ajakan menonton pertandingan Arema.

Orangtua Alfiansyah itu menjadi korban meninggal Tragedi Kanjuruhan akibat terinjak-injak penonton yang kalut karena menerima tembakan gas air mata dari aparat (Kompas.com, 02/10/2022).

Dan sampai kapan pun, Suparti akan menunggu kabar kepastian putranya yang bernama Budi (20) bisa pulang ke rumahnya di Ngajum, Malang. Budi adalah salah satu penonton pertandingan di Kanjuruhan yang tengah dicari keberadaannya.

“Rivalitas hanya 90 menit di atas lapangan. Di luar itu, kita semua saudara.” – Bali United FC.

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website kompas.com. Situs https://idwarta.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://idwarta.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”