IDWARTA

Media Informasi Uda Gitu Aja

Desember 4, 2022

idwarta.com – Krisis ekonomi di Sri Lanka benar-benar membawa negara itu dalam situasi yang tidak baik. Setelah dinyatakan bangkrut, ekonomi negara Asia Selatan itu terus merosot.

Berdasarkan data dari Departemen Statistik Sri Lanka yang dirilis Kamis (15/9/2022), pertumbuhan PDB Sri Lanka pada kuartal ii-2022 tercatat -8,4%. Koreksi itu menjadi yang terburuk dalam 7 dekade terakhir.

“Ini adalah kontraksi tertajam kedua yang pernah kami lihat. Terakhir adalah ketika Sri Lanka membukukan pertumbuhan negatif 16% pada Q2 tahun 2020 karena penguncian pandemi Covid-19,” kata Dimantha Mathew, Kepala Riset First Capital, dikutip dari Reuters.

Sebelumnya, Sri Lanka pun telah dinyatakan bangkrut. Hal ini disebabkan oleh kesalahan pengelolaan ekonomi saat pandemi covid-19. Masyarakatnya harus menanggung beban berat, bahkan hanya untuk mendapatkan makanan, bahan bakar hingga obat-obatan.

Untuk diketahui, Sri Lanka yang berpenduduk 22 juta orang telah mengalami pemadaman listrik selama berbulan-bulan, rekor inflasi, kekurangan makanan, bahan bakar dan obat-obatan. Sejak akhir tahun lalu, negara ini kehabisan devisa untuk membiayai impor yang paling penting sekalipun.

Pada April lalu, Sri Lanka gagal membayar utang luar negerinya sebesar US$51 miliar (Rp 760,3 triliun) dan membuka pembicaraan dana talangan dengan Dana Moneter Internasional (IMF).

Ini juga kemudian membuat inflasi pangan di negara itu cukup tinggi. Dalam data Trading Economics, inflasi pangan di negara itu mencapai 90,9% pada Juli 2022.

Demi menyelesaikan krisis ini, IMF sejauh ini sudah sepakat untuk memberikan suntikan US$ 2,9 miliar. Akan tetapi, beberapa persyaratan harus dipenuhi. Salah satunya merestrukturisasi utang dengan pemegang obligasi swasta dan kreditor bilateral sebelum mendapatkan pencairan.

Sementara itu, selain dampak ekonomi, kondisi krisis ini telah menimbulkan gejolak sosial tinggi di masyarakat. Media The Morning melaporkan sejumlah wanita ‘terpaksa’ harus beralih profesi menjadi pekerja seks, dengan tujuan bisa mendapatkan makanan dan obat-obatan untuk keluarganya. Jumlah pekerja seks negara itu pun dilaporkan mengalami kenaikan.

Berdasarkan data kelompok advokasi pekerja seks setempat, Stand Up Movement Lanka (SUML), jumlah wanita yang menjadi PSK selama waktu krisis, melonjak sekitar 30%. Kebanyakan berasal dari industri tekstil, karena banyak pesanan luar negeri menghilang mencapai 10%-20%.

“Para wanita ini sangat putus asa untuk menghidupi anak-anak mereka, orang tua atau bahkan saudara mereka dan pekerjaan seks adalah salah satu dari sedikit profesi yang tersisa di Sri Lanka yang menawarkan banyak keuntungan dan uang cepat,” kata Direktur Eksekutif SUML, Ashila Dandeniya.

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website cnbcindonesia.com. Situs https://idwarta.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://idwarta.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”