IDWARTA

Media Informasi Uda Gitu Aja

Desember 1, 2022

idwarta.com – TikTok baru-baru ini dituding mengeksploitasi satu keluarga miskin di Suriah yang meminta sumbangan untuk bertahan hidup.

Laporan BBC menyebut bahwa perusahaan mengambil untung hingga 70% dari sumbangan yang diperoleh pengungsi Suriah dari donasi saat siaran langsung (live streaming) di platform tempat berbagi video pendek tersebut.

Para pengungsi di barat laut Suriah itu difasilitasi oleh pihak yang disebut sebagai ‘perantara TikTok’. Perantara ini menyediakan telepon dan peralatan kepada pengungsi agar mereka bisa meminta donasi lewat live streaming.

Menurut laporan itu, anak-anak pengungsi di kamp Suriah biasanya melakukan siaran langsung selama beberapa jam untuk memohon donasi. Mereka bisa mendapatkan hingga US$ 1.000 atau Rp 15,4 juta per jam. Namun hasil penyelidikan BBC menunjukkan, pengungsi mendapatkan uang lebih kecil dari itu.

TikTok mengatakan, konten seperti itu melanggar ketentuan aplikasi.

“TikTok dengan jelas menyatakan bahwa pengguna tidak diizinkan untuk meminta hadiah secara eksplisit, jadi ini jelas merupakan pelanggaran terhadap persyaratan layanan mereka sendiri, serta hak orang-orang ini,” kata Marwa Fatafta dari organisasi hak digital Access Now.

Dalam sebuah pernyataan yang dikirim ke Fortune, perusahaan menulis klarifikasi sebagai berikut:

“Kami sangat prihatin dengan informasi yang disampaikan kepada kami oleh BBC. Kami telah mengambil tindakan cepat dan tegas untuk menghapus akun yang melanggar Pedoman Komunitas kami, memutuskan hubungan kami dengan agensi yang bersangkutan, dan menulis surat ke semua agensi LIVE kami dan mengingatkan mereka tentang perjanjian kontrak mereka untuk mematuhi kebijakan ketat kami. Jenis konten ini tidak diizinkan di platform kami, dan kami semakin memperluas kebijakan global seputar aksi eksploitatif.”

Wartawan di Unit Anti-Disinformasi global BBC, BBC News Arabic, dan BBC Africa Eye Investigations kini telah melacak uang yang dikirim ke rekening pengungsi Suriah, dan menemukan bahwa mereka menerima kurang dari seperlima dari uang yang disumbangkan kepada keluarga miskin yang membutuhkan.

Menurut hitungan mereka, TikTok bisa mengambil hingga 70% dari donasi yang terkumpul, sebagian digunakan untuk kemudian mengganti biaya mengadakan live streaming yang membuat praktik tersebut bisa tetap berjalan.

Perantara mengatakan bahwa mereka bekerja dengan agensi yang berafiliasi dengan TikTok di Cina dan Timur Tengah. Agensi ini adalah bagian dari strategi global TikTok untuk merekrut livestreamer dan mendorong pengguna menghabiskan lebih banyak waktu di aplikasi.

Para perantara itu menggunakan sim card ponsel Inggris untuk membuatkan akun TikTok pengungsi di kamp Suriah. Alasannya, karena algoritme TikTok menyarankan konten berdasarkan asal geografis nomor telepon pengguna.

Namun, dalam sebuah pernyataan kepada BBC, TikTok mengatakan jenis konten eksploitatif ini tidak diizinkan di platformnya dan berjanji untuk mengambil tindakan.

TikTok juga mengklaim komisi yang mereka ambil dari donasi digital jauh di bawah 70%, tetapi tidak menyebutkan jumlah pastinya.

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website cnbcindonesia.com. Situs https://idwarta.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://idwarta.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”